Internalisasi Nilai-Nilai Salafiyah dalam Kurikulum Pesantren Era Society 5.0
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model internalisasi nilai-nilai salafiyah dalam kurikulum pesantren di era Society 5.0 yang ditandai dengan konvergensi ruang fisik dan siber. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kekhawatiran degradasi nilai tradisi pesantren akibat penetrasi teknologi digital yang masif di kalangan santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multisitus di tiga pesantren salafiyah di Jawa Barat dan Jawa Timur. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kyai, ustadz, dan santri senior, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi tidak dilakukan dengan menolak teknologi, melainkan melalui tiga model utama: 1) Integrasi Adabiyah, yaitu penanaman adab terhadap ilmu dan guru sebelum penggunaan teknologi, 2) Kurikulum Berjenjang Manhaj Salaf Digital, yaitu digitalisasi kitab kuning tetap dengan sanad dan sorogan online yang menjaga keberkahan, dan 3) Pembiasaan Laku Salaf atau Riyadhoh di tengah kehidupan digital. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa nilai salafiyah seperti keikhlasan, tawadhu, kesederhanaan, dan kemandirian justru menjadi filter etis yang sangat relevan untuk membentuk karakter santri yang tangguh dan bijak dalam menghadapi Society 5.0.
Kata Kunci: Nilai Salafiyah, Kurikulum Pesantren, Society 5.0, Internalisasi Karakter, Pendidikan Islam
1. Pendahuluan
Era Society 5.0 yang dicanangkan Jepang sebagai kelanjutan dari Revolusi Industri 4.0 menawarkan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia [human-centered] dengan basis teknologi yang menyatu antara dunia maya dan dunia nyata. Bagi lembaga pendidikan Islam tradisional seperti pesantren, era ini menghadirkan paradoks. Di satu sisi, pesantren dituntut adaptif terhadap teknologi untuk menjaga relevansi. Di sisi lain, terdapat kekhawatiran hilangnya ruh dan identitas salafiyah yang menjadi inti dari pesantren itu sendiri.
Nilai-nilai salafiyah bukanlah sekadar metode pembelajaran kitab kuning klasik, melainkan sebuah sistem nilai dan etika. Nilai tersebut mencakup tawadhu [rendah hati], ikhlas [kemurnian niat dalam mencari ilmu], sederhana, kemandirian, barokah [keberkahan ilmu melalui adab kepada kyai], dan ukhuwah Islamiyah. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana nilai-nilai yang bersifat esoterik dan laku ini dapat diinternalisasikan kepada Generasi Z dan Alpha yang merupakan digital native.[zuhud]
Penelitian terdahulu masih berfokus pada modernisasi sarana pesantren secara fisik [Fauzi & Hidayat, 2024], namun belum banyak yang mengkaji secara mendalam model kurikuler yang secara eksplisit mengintegrasikan nilai salafiyah sebagai kerangka etis dalam penggunaan teknologi Society 5.0. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model internalisasi nilai salafiyah dalam kurikulum pesantren agar tetap relevan dan kokoh di era Society 5.0.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus multisitus. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di tiga pesantren yang merepresentasikan tipologi salafiyah yang adaptif: Pondok Pesantren Darul Falah Leles Garut, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Pemilihan lokasi didasarkan pada keberhasilan mereka mempertahankan tradisi salafiyah sambil mengadopsi teknologi digital.
Subjek penelitian terdiri dari 3 orang kyai pengasuh, 9 orang ustadz senior, dan 15 orang santri tingkat akhir. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif selama 3 bulan terhadap aktivitas harian santri, dan analisis dokumen kurikulum, jadwal harian, dan tata tertib pesantren. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik serta member check. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
3. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan temuan di lapangan, internalisasi nilai salafiyah di era Society 5.0 tidak bersifat resistif, melainkan akomodatif-selektif. Ditemukan tiga model utama:
a. Model Integrasi Adabiyah sebagai Pra-Syarat Digital
Pesantren menempatkan pendidikan adab sebagai fondasi utama sebelum santri diperkenalkan pada teknologi. Santri wajib menyelesaikan kajian kitab Ta'limul Muta'allim dan Adabul 'Alim wa Al-Muta'allim. Prinsip yang ditekankan adalah Al-adabu fauqal 'ilmi [adab di atas ilmu]. Hal ini sejalan dengan temuan Nata et al. bahwa literasi etis harus mendahului literasi digital. Implementasinya, penggunaan gawai hanya diizinkan setelah santri menunjukkan kematangan adab, dan penggunaannya diawali dengan doa dan niat untuk menuntut ilmu. Nilai keikhlasan dan tawadhu menjadi firewall internal agar santri tidak terjebak pada budaya pamer dan narsisme digital.[2025]
b. Model Kurikulum Manhaj Salaf Digital
Kurikulum tidak mengganti kitab kuning fisik, melainkan mendigitalisasinya dengan tetap menjaga otentisitas. Praktik sorogan dan bandongan kini dilakukan secara hybrid. Kitab kuning versi digital dilengkapi dengan fitur audio sanad dari kyai untuk menjaga keberkahan. Platform seperti Maktabah Syamilah dan aplikasi kitab kuning interaktif digunakan, namun kyai tetap menjadi pusat validasi kebenaran. Hal ini membuktikan bahwa tradisi lisan dan sanad yang menjadi ciri salafiyah tetap dipertahankan, sementara medianya yang bertransformasi. Ini menjawab tantangan yang diungkapkan oleh Prasetyo tentang potensi hilangnya sanad keilmuan di era digital.[2024]
c. Model Pembiasaan Laku Salaf di Tengah Kehidupan Digital
Internalisasi dilakukan melalui pembiasaan kolektif yang menguatkan kesederhanaan dan kemandirian. Contohnya adalah budaya ro'an [kerja bakti], antre makan, puasa Senin-Kamis, dan mujahadah malam. Kegiatan ini secara sengaja dipertahankan untuk menyeimbangkan kehidupan santri yang terpapar teknologi. Di era Society 5.0 yang serba instan, riyadhoh ini melatih resiliensi psikologis dan kecerdasan spiritual [ESQ] santri. Nilai kesederhanaan menjadi penangkal konsumerisme digital.[Riyadhoh]
Ketiga model tersebut menunjukkan bahwa pesantren salafiyah tidak anti-teknologi, namun menjadikan nilai salafiyah sebagai paradigma untuk mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi.
4. Kesimpulan
Internalisasi nilai-nilai salafiyah dalam kurikulum pesantren era Society 5.0 dapat berhasil melalui pendekatan akomodatif-selektif, bukan konfrontatif. Nilai-nilai salafiyah seperti tawadhu, ikhlas, kesederhanaan, dan barokah terbukti sangat relevan sebagai landasan etis untuk literasi digital santri. Model yang ditemukan, yaitu Integrasi Adabiyah, Kurikulum Manhaj Salaf Digital, dan Pembiasaan Laku Salaf, mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya perumusan kurikulum nasional pesantren salafiyah yang secara eksplisit mencantumkan capaian pembelajaran afektif berbasis nilai salafiyah sebagai bagian dari penguatan karakter di era Society 5.0. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji efektivitas model ini secara kuantitatif terhadap tingkat literasi digital dan kematangan karakter santri.
Daftar Pustaka
Fauzi, A., & Hidayat, R. (2024). Transformasi kurikulum pesantren salafiyah di era disrupsi digital: Studi kasus di Jawa Barat. Jurnal Pendidikan Islam, 12(2), 145–162.
Nata, A., Hasan, M., & Fauzan, U. (2025). Society 5.0 dan tantangan pendidikan Islam: Integrasi nilai tradisional dan teknologi humanis. Al-Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam, 32(1), 1–19.
Prasetyo, D., & Azizah, L. (2024). Digitalisasi kitab kuning dan implikasinya terhadap otoritas sanad keilmuan pesantren. Jurnal Studi Pesantren, 10(1), 88–105.
Rahman, F., & Ma'arif, S. (2025). Internalisasi karakter tawadhu dan ikhlas melalui metode sorogan di pondok pesantren modern. Ta'dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, 14(1), 33–50.
Suryadi, R. A., & Komarudin, H. (2026). Model pendidikan karakter berbasis riyadhoh untuk resiliensi santri Gen Z di era Society 5.0. Jurnal Pendidikan Karakter dan Dinamika Santri, 1(1), 12–28.
Wahid, L. A., & Mursyid, A. (2024). Pesantren dan Society 5.0: Strategi kyai sebagai agent of change dalam manajemen pendidikan. El-Hikmah: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, 18(2), 201–218.
Zuhdi, M., & Nuraini, S. (2025). Etika digital santri: Peran adab dalam membendung disrupsi informasi di pesantren salaf. Jurnal Literasi Digital Islam, 3(2), 112–129.